AL FARABI
(870-950 M)
biografi
Nama Asli, Abu Nasr Muhammad al-Farabi lahir di Wasij, suatu desa
di Farab (Transoxania) pada tahun 870 M
Al-Farabi dalam sumber-sumber Islam lebih akrab dikenal sebagai Abu Nasr /Abunaser
Ia berasal dari keturunan Persia. Ayahnya Muhammad Uzlagh, seorang Panglima Perang
Persia yang kemudiaan menetap di Damsyik
Ibunya berasal dari Turki. Oleh karena itu ia biasa disebut orang
Persia atau orang Turki
Ia wafat pada usia 80 tahun (950 M)
Kehidupan al-Farabi dapat dibagi menjadi dua, yaitu pertama bermula
dari sejak lahir sampai usia lima tahun. Pendidikan dasarnya ialah keagamaan
dan bahasa; ia mempelajari fikh, hadis, dan tafsir al-Qur’an. Ia juga
mempalajari bahasa Arab, Turki dan Persia.
Periode kedua adalah periode usia tua dan kematangan intelektual.
Baghdad merupakan tempat belajar yang terkemuka pada abad ke-4/10. Di sana ia
bertemu dengan sarjana dari berbagai bidang, diantaranya para filosof dan
penerjemah. Ia tertarik untuk mempelajari logika, dan diantara ahli logika
paling terkemuka adalah Abu Bisyr Matta
ibn Yunus. Untuk beberapa lama ia belajar dengannya
Begitu mendalam penyelidikanya tentang filsafat Yunani terutama
mengenai filsafat Plato dan Aristoteles, sehingga ia digelari julukan Mu’ alim
Tsani (Guru Kedua), karena Guru Pertama
diberikan kepada Aristoteles, disebabkan usaha Aristoteles meletakkan dasar
ilmu logika yang pertama dalam sejarah dunia.
Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan dalam filsafat Al Farabi adalah untuk mencapai
kesempurnaan dan kebahagiaan.Untuk itu tugas pendidikan adalah mempersiapkan
manusia sebagai anggota yang siap terjun ke masyarakat (go public).
Persiapan ini dimulai sedari kecil sehingga di masa dewasa ia akan
punya tabiat baik terutama dalam meraih kesempurnaan dan juga tujuan-tujuan
yang dibuatnya (by Design).
Keseluruhan aktvitas pendidikan merupakan perolehan nilai-nilai,
pengetahuan intelektual dan keterampilan praktis, yang kemudian harus
dikembangkan pada tujuannnya yaitu membawa manusia kepada kesempurnaan (Kaffah)
Dengan kesempurnaan, seseorang akan mendapatkan kebahagiaan yang
merupakan kesempurnaan tertinggi dan didalamnya terdapat proses memandang
sesamanya secara manusiawi.
Kesempurnaan manusia, menurutnya, adalah proses akhir dalam meraih
nilai-nilai teoritis atau pengetahuan intelektual dan nilai-nilai praktis atau
tingkah laku bermoral.
Dengan usaha pencapaian kedua hal ini (teori & praktik),
individu akan bisa masuk ke dalam masyarakat dengan menjadi anggota masyarakat.
Individu yang kental dengan sifat ini akan bisa menjadi teladan dan kemudian
bisa menjadi seorang pemimpin
Pendidikan yang disampaikan Al Farabi juga menyangkut moral dan
estetika.Hasil yang dicapai adalah satu yaitu kebahagiaan dan kebaikan.
Kesempurnaan teoritis dan praktis diraih di dalam masyarakat karena
pemahaman kebebasan manusia itu ada setelah masyarakat. Individu memang tidak
pernah berdiri sendiri melainkan mengandalkan bimbingan orang lain.
Tujuan lain dari filsafat pendidikan al-Farabi adalah pembentukan
pemimpin-pemimpin politik yang handal .
Masyarakat atau kehidupan sosial dalam konteks al-Farabi ada karena
terjadi integrasi antara individu, keluarga, dan kelompok.
Pemimpin politik memiliki fungsi sebagai dokter yang menyembuhkan
jiwa sehingga dengan kepemimpinannya jiwa masyarakat akan selalu sehat.
Seorang pemimpin diusahakan mampu menyemangati masyarakatnya untuk
dapat menolong satu dengan yang lain. Terutama dalam meraih sesuatu yang baik
dan menghindar dari yang jahat.Kemampuan politisnya harus digunakan untuk
menjaga nilai-nilai yang mampu mengembangkan masyarakat.
Kesempurnaan masyarakat dapat terjadi bila ada keseimbangan moral di antara setiap masyarakat. Ketika tingkah laku moral menurun dan tidak ada kepercayaan terhadap pemimpin maka masyarakat akan menuju kepada kehancurannya. Maka, moralitas di sini menjadi dasar objektif dari pendidikan.
Kesempurnaan masyarakat dapat terjadi bila ada keseimbangan moral di antara setiap masyarakat. Ketika tingkah laku moral menurun dan tidak ada kepercayaan terhadap pemimpin maka masyarakat akan menuju kepada kehancurannya. Maka, moralitas di sini menjadi dasar objektif dari pendidikan.
Untuk menerapkan filsafatnya dalam kehidupan sehari-hari, al-Farabi
membagi tugas terhadap beberapa figur masyarakat. Misalkan seorang imam, ia
memiliki tanggung jawab besar dalam pendidikan ini. Imam adalah orang yang
dihormati dan diteladani maka dari itu imam memegang peranan mendidik. Kotbah
sang imam harus seputar kesempurnaan moralitas, yaitu kesatuan teori dan
praktek. Juga, pendidikan merupakan tanggung jawab negara sehingga negara
berperanan dalam budget pendidikan.
PembelajaMetode ran
Kesempurnaan masyarakat dapat terjadi bila ada keseimbangan moral
di antara setiap masyarakat. Ketika tingkah laku moral menurun dan tidak ada
kepercayaan terhadap pemimpin maka masyarakat akan menuju kepada kehancurannya.
Maka, moralitas di sini menjadi dasar objektif dari pendidikan.
Untuk menerapkan filsafatnya dalam kehidupan sehari-hari, al-Farabi
membagi tugas terhadap beberapa figur masyarakat. Misalkan seorang imam, ia
memiliki tanggung jawab besar dalam pendidikan ini. Imam adalah orang yang
dihormati dan diteladani maka dari itu imam memegang peranan mendidik. Kotbah
sang imam harus seputar kesempurnaan moralitas, yaitu kesatuan teori dan
praktek. Juga, pendidikan merupakan tanggung jawab negara sehingga negara
berperanan dalam budget pendidikan
Dalam metode demonstratif, anak didik diajak untuk mencapai
nilai-nilai teoritis.Prosesnya dijalankan dengan melakukan “instruksi oral”
misalnya dengan kegiatan speech.
Al-Farabi juga menekankan pentingnya diskusi & dialog dalam
metode instruktif.Metode ini digunakan agar anak didik mampu meraih pemahaman
yang sebenarnya (teori sejalan dg realitas yg ada).
Pencapaian nilai-nilai seni & moral merupakan ciri dari model
persuasif. Model ini merupakan metode yang mengajak atau mempengaruhi orang
tanpa butuh kepastian pengetahuan atau tanpa diharuskannya ada bukti-bukti yang
mendukung.
Persuasi akan berjalan bila orang yang dipengaruhi merasa senang
& puas. Intinya jiwa orang tersebut dapat merasakan dan membayangkan
sesuatu yang baik, dimensi afektif sangat ditekankan di sini.
Metode instruksi al-Farabi memiliki dua aspek yaitu model audisi
dan model imitasi. Dalam model audisi, anak didik belajar dengan didasarkan
pada kemampuan berbicaranya yang disertai dengan pemahaman dan pengertiannya
akan realitas sedangkan model imitasi adalah dengan mengamati gerak-gerik orang
lain dahulu dan kemudian menirunya.
Untuk meraih kesempurnaan dari metode yang dibuatnya ini, al-Farabi
sangat menekankan kebiasaan. Kebiasaan yang mengakar akan menjadikan anak didik
semakin mengerti akan isi pembelajaran yang diberikan oleh para instruktor.
Nilai-nilai etis juga digapai dengan melakukan kebiasaan dan repetisi sehingga
nilai-nilai ini dapat tertanam dengan kuat di dalam pikiran.
Model pengulangan juga mungkin dalam mengajarkan seni di mana
kebiasaan yang akan dikembangkan adalah kemampuan berbicara yang persuasif,
afektif, dan reflektif.
Metode kebiasaan seperti ini baik diterapkan kepada orang-orang
yang kurang taat karena dengan mengajak mereka membiasakan diri berpikir dan
bertingkah laku yang baik akan ada kemungkinan mereka akan kembali ke jalan
yang benar.
Kurikulum
Kurikulum dalam pendidikan al-Farabi disusun sedemikian rupa dari
yang ringan hingga yang rumit atau dari yang sekular sampai ke yang religius.
Kurikulum awal pendidikan tersebut adalah bahasa, kemudian
dilanjutkan dengan logika, matematika, ilmu alam, ilmu politik, fiqh, hukum,
dan teologi (kalam) .
Dengan urutan kurikulum yang semacam ini, anak didik diharapkan
mampu berkembang dalam akal budi, moralitas, dan iman.Ia akan menguasai ilmu
yang ada di dunia ini namun ia tidak lupa akan pencipta dari ilmu tersebut.
Makna Pembelajaran
Perhatian utama al-Farabi dalam memaknai pembelajaran adalah untuk
pengklasifikasian, pemahaman, dan penyadaran manusia akan arti hidup.
Dia merekomendasikan bahwa manusia dalam pengklasifikasian,
pemahaman, dan penyadaran ini dapat menggunakan observasi visual.Hal ini
dimaksudkan agar manusia dapat mengerti relaitas sesuai dengan jangkauan
inderanya.Dalam menuju abstraksi dari observasi visual, anak didik terlebih
dahulu diajak untuk mendefinisikan sesuatu yang ditangkapnya dan kemudian anak
didik diminta untuk menjelaskan dengan seksama sesuatu tersebut dengan
menggunakan ilustrasi atau semacamnya. Yang jelas, anak didik mendapatkan makna
dalam pembelajaran yang memang membutuhkan proses yang rumit dan lama.
Untuk menuju pencapaian makna pembelajaran yang maximal namun tidak membuat anak didik stress dan putus asa maka al-Farabi memberi perhatian kepada rekreasi yang mendukung yaitu dengan permainan atau penceritaan kisah-kisah yang menarik.
Untuk menuju pencapaian makna pembelajaran yang maximal namun tidak membuat anak didik stress dan putus asa maka al-Farabi memberi perhatian kepada rekreasi yang mendukung yaitu dengan permainan atau penceritaan kisah-kisah yang menarik.
Tujuan dari rekreasi ini adalah untuk membuat mereka menerima sisi
humor dari kehidupan.Dengan sistem pembelajaran yang ketat dan berat dan
kemudian diimbangi dengan rekreasi yang mendukung adalah usaha untuk membuat
anak didik tidak sampai pada kelelahan atau kejenuhan yang berlebih.
Al-Farabi juga berbicara mengenai hukuman dalam filsafat
pendidikannya di mana dengan hukuman anak didik suatu ketika dapat mengerti
makna pembelajaran yang diberikannya.Seorang guru menurutnya tidak boleh
terlalu keras dan juga tidak boleh terlalu lembut. Jika ia terlalu keras maka
anak-anak didiknya akan memusuhinya dan jika ia terlalu lembut maka anak-anak
didiknya akan menjadi pemalas dan mereka tidak akan menaruh perhatian pada
pelajaran sang guru.
Pergunakan daya pikirmu (akal) di setiap tempat dan keadaan, maka
kamu akan menemukan solusi kehidupan di sana.
Komentar