Resensi Filsafat Islam
RESENSI BUKU
JudulBuku :
SEGI-SEGI PEMIKIRAN FALSAFI DALAM ISLAM
Penulis :
Dr. Muhd. Yusuf Musa dan Dr. Tsabit Al-Fandi
Editor
:Dr. ahmad Daududy, M.A.
Penerbit :
P.T. Bulan bintang
TebalBuku :116
Lembar
Kelangkaan
buku-buku filsafat yang ditulis dalam Bahasa Indonesia menyebabkan kesulitan
mahasiswa IAIN khususnya dalam mempelajari filsafat disebabkan kelemahannya
dalam Bahasa Arab, sehingga menghambat dalam memahami sumber-sumber asli atau
makalah-makalah ilmiah serta buku-buku filsafat yang dituilis kebanyakan dalam
Bahasa Arab.
Dalam
buku ini telah dirangkum atau diterjenahkan empat makalah ilmiah dalam filsafat
islam yang ditulis oleh para ahli. Dalam empat makalah yang telah diterjemahkan
itu isinya membahas tentang:
1. Ketuhanan dalam pemikiran ibn Sina dan ibn
Rusydi
2. Allah dan alam dalam konsepsi ibn Sina
3. Tahafutul-falasifah karya Al-Ghazali
4. Filsafat agama dalam pemikiran Al-Ghazali
Selanjutnya saya akan
mencoba menguraikan sedikit yang saya pahami dari buku ini.
A. KetuhanandalamPemikiranibnSinadanibnRusydi
Dalam pembahasan ini dibatasi pada masalah “ketuhanan dan
penciptaan alam” dalam konsepsi ibn Sina dan ibn Rusydi. Yang menyebabkan
reaksi al-Gazali terhadap masalah tersebut yang demikian sengit dan keras
terhadap para filosof khususnya al-Farabi dan ibnSina, dan selanjutnya reaksi
Ibn Rusydi terhadap al-Ghazali dan terhadap kitabnya yang berjudul Tahafutut
al-falasifah, sebagai upaya menjelaskan kebenaran dalam masalah-masalah
yang telah meruncingkan permusuhan.
Ibn Rusydi telah membuat komentar dan kesimpulan filsafat
aristoteles, sehingga ia disebut al-Syarih (komentator) guru
Pertama yakni Aristoteles. Ada dua corak pendiriannya dalam masalah ini, yaitu:
1. Ia berdiri dipihak ibn Sina, versus
al-Ghazali, jika pendapatnya sesuai dengan pemikirannya atau jika ia melihat
pendapatnya berasal dari Aristoteles. Dalam hal ini dia menambahkan sandaran
atau alas an baru terhadap mazhabnya atau menjelaskannya dengan lebih rinci.
2. Dari sisi lain, jika ia melihat ibn Sina
menyalahi “Guru Pertama”, sehingga ia mengadakan apa yang tidak dikatakannya,
maka kita melihat ibn Rusydi merehmehkan serta mengumpatnya dengan kersas
sekali, seraya menjelaskan bahwa ibn Sina telah memberikan kesempatan bagi
al-ghazali untuk menyerang filsafat dan para filosof umumnya, sementara ibn
Sina dan al-Farabi, adalah yang berhak menjawab sendiri serangan tersebut.
a. Wujud Allah
Aristoteles berpendapat, pengakuan adanya “penggerak pertama”
sudah cukup untuk menjadi penafsiran alam ini: gerak, kejadian, dan hancurnya,
sehingga ia menjadikan-Nya sebagai titik terakhir dimana berakhir segala
silsilah gerak. Dia sendiri yang tetap, tidak gerak, dan tanpa Dia, gerak alam
ini tidak bisa ditafsirkan secara akali. “Penggerak Pertama”, ini atau dengan
kata lain “YamgTerakhir” dari silsilah gerak menurutnya adalah Tuhan.
Akan tetapi disini terdapat kesukaran, gerak alam dari
Tuhan dapat dipandang sebagai sebab tujuan (‘illahgha’iyyah), yakni
Tuhan adalah tujuan yang menjadi arah gerak alam, bukan sebagai pencipta alam
ini. Karna dalil tersebut berujung pada “penggerak” atau Tuhan yang tidak
berbuat, sehingga alam ini tidak dari-Nya.
Pendapat Aristoteles ini, yang kepada “Penggerak Pertama” adalah
Tuhan bertentangan dengan agama, baik islam atau yang lainnya. Karena Tuhan
dalam pengertian ini bukan sebagai pencipta atau pembuat alam ini, sementara
dengan tegas al-Qur’an menyatakan bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu.
Oleh karena itu ibn Sina menempuh jalan lain dari aristoteles
dalam menetapkan wujud Allah. Ia memadukan konsepsi Aristoteles dengan ajaran
al-Qur’an. Ia memilki dalil yang didasarkan pada perbedaan wajib dan mungkin,
tanpa adanya pertimbangan lain selain wujud itus endiri. Ia berdalil dengan
“kemungkinan segala yang mungkin”(imkan al-mumkinat) terhadap wujud
yang wajib (Tuhan).
Imam al-Gazali tidak membiarkan dalil ibn Sina berperan begitu
saja, dan ia menjelaskan bahwa dalil itu tidak benar, ia menjelaskan bahwa
dalil itu tidak benar dapat mencapai maksud, yakni menetapkan wujud Allah.
Demikian juga ibn Rusydi menurutnya bahwa metode ibn Sina dalam masalah ini
adalah metoda dialektis (jadali)bukan bukti (burhani) dan
juga tidak mencapai tujuan sehingga ibn Rusydi juga menolaknya. Ibn Rusydi
tidak sependapat dengan ibn Sina dalam menetapkan wujud Allah. Menurutnya jalan
yang dapat membawa kita pada pengakuan adanya Allah dan juga al-Qur’an adalah
dalil‘inayah dan dali likhtira’.
b. Pencipta Alam
Ibn Sina dan al-farabi
mengemukakan dua dasar:
Ø Alam ini kadim dari
segi zaman
Ø Yang Esa itu esa dari
segala segi, dari-Nya hanya satu yang keluar dan melimpah, dan dari yang satu
ini keluarlah yang lainnya
Jadi ibn Sina mengatakan alam ini kadim dan ia melimpah dari
Allah.
Teori ini mengundang kritik tajam dari al-Ghazali, katanya teori
tersebut adalah sesat dan salah karena dapat menggiring orang mengatakan alam
ini kadim (tidak bermula) serta menafikan iradah dan ikhtiar Allah. Jika alam
ini melimpah dari allah sebagai suatu keharusan yang mesti sejak azali, maka
wujud alam adalah wujud Allah, sehingga keduanya sejenis dan serupa dalam wujud
yang kadim.
Ibn Rusydi juga tidak dapat menerima teori ibn Sina tersebut.
Pendapatnya adalah dari Yang Esa Pertama keluarlah mula-mula semua mahkluk yang
berjenis-jenis.
A. Allah dan Alam dalam Konsepsi ibn Sina
Ibn Sina menyatakan bahwa “sebab kebutuhan kepada al-wajib
(tuhan) adalah mungkin, bukan baharu. ” Pernyataan ini akan membawa aktifnya
iradah Allah sejak kadim, sebelum zaman.
Ibn Sina menyempurnakan tori Aristoteles dengan ajaran islam,
yaitu:
- Tuhan adalah akal karena Ia bukan materi.
- Tuhan memikirkan dzat-Nya, karena akal itu
harus memikirkan sesuatu. Tetapi tidak ada yang lebih luhur dari pada dzat yang
dipikirkan itu, sehingga dzat-Nya menjadi objek pemikiran-Nya.
Baik al-Ghazali maupun ibn Rusydi mengeritik ibn Sina dengan
keras, menuduh ibn Sina hanya mengatakan ilmu kulli dari
Allah.
Hubungan Tuhan dengan
alam dalam konsepsi ibn Sina dapat disimpulkan sbb:
· Tuhan dalam konsepsi ibn Sina tidak jauh beda
dengan konsepsi aristoteles, yakni tunduk pada hukum kemestian (necessity).
· Teorifaidh (melimpah) yang
berkisar pada akal-akal immaterial(al-‘uqulu ‘l-muffariqah) dan
jiwa-jiwa falak adalah suatu teori yang tidak menambah hal baru pada Tuhan
sebagai “sebab pembuat”, karena tidak melampaui akal pertama.
· Satu-satunya ajaran islam yang terdapat
hubungan Tuhan dengan alam adalah ajaran “ilmuIlahi”, sehinggaiamenjadikanilmu
Allah menjangkausegalasesuatu yang dilangitdan di bumi.
BerbedadenganAristoteles yang Tuhanhanyamenghetahuidzat-Nyasendiri.
B. Tahafutul-FalasifahKarya al-Ghazali
Tahafututberartikianjatuhdanrusak, yang dimaksud ialah bahwa
filosof telah jatuh mati akibat tikaman maut yang diarahkan oleh al-Ghazali
terhadap pemikiran mereka, sehingga ilmu filsafat tidak lagi muncul sesudah itu
(di dunia islam), walaupun ibn Rusydi mati-matian untuk mempertahankannya.
Al-Ghazali menyerang Para filosof dan menyatakan pemisahan diri dari filsafat
tradisional.
Tahafut melukiskan pertentangan antara agama dan filsafat. Dalam
kitab Tahafut didalamnya ia menyanggah para filosof dan menunjukkan kekacauan
pendapat mereka.Munculnya
kitab Tahafut al-Falasifah merupakan permulaan kemenangan
agama dan kehancuran filsafat, sehingga akhirnya filsafat itu menghilang sama
sekali dalam kehidupan umat islam karena keluarnya fatwa yang mengharamkan
belajar dan mengajar ilmu tersebut.
a. Kitab
Tahafut
Kitab ini terdiri atas empat mukaddimah, 20
masalah dan penutup (khatimah). Sejumlah 20 masalah, dikategorikan
sebagai hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama, bahkah tiga diantaranya
dipandang sebagai konsep-konsep orang kafir. Masalah tersebut dapat dibagi
sebagai sebagai berikut:
1. Hubungan
Allah dengan alam, hal ini meliputi empat masalah
· Kadimnya
alam
· Keabadian
alam dan zaman
· Allah
pencipta dan pembuat alam
· Ketidak
mampuan membuktikanadanya pembuat alam.
2. Keesaan
dan ketidak mampuan membuktikan-Nya (masalah kelima).
3. Sifat-sifat
Ilahi (masalah keenam sampai kedua belas).
4. Meghetahui
hal-hal yang kecil “juz ‘iyyat” (masalah ketiga belas).
5. Masalah
falak dan alam (masalah keempat belas sampai dengan keenam belas).
6. Sebab
akibat (masalah keyujuh belas).
7. Jiwa
manusia (masalah kedelapan belas dan sembilan belas).
8. Kebangkitan
jazad pada hari akhirat (masalah kedua puluh).
C. Filsafat
Agama dalam Pemikiran al-Ghazali
Al-Ghazali mengemukakan suatu filsafat yang
berbeda dengan filsafat para teolog dan filosof,karna kebanyakan perhatian
mereka terpusat pada masalah-masalah klasik yang terdapat dalam pemikiran
Yunani. Al-Ghazali menafsirkan ajaran agama dari segi tasawwuf yang jauh
berbeda dengan penafsiran yang pernah dilakukan oleh para fukaha dan teolog.
Oleh karena itu al-Ghazali bukan disebut “filosof Tahafut”, tapi “filosof
Ihya”. Al-Ghazali menafsirkan ajaran agama dari sudut mistik , yakni: shalat,
tauhid, dan ma’rifah.
Pemikiran al-Ghazali didominir oleh
pandangan bahwa agama islam mengandung dalam dirinya dua jenis penafsiran:
1. Tafsir
duniawi
2. Tafsir
ukhrawi
Demikianlah kandungan umum tentang empat
makalah yang termuat dalam buku ini. Saya akan sedikit menguraikan tenteng
kelemahan dan kelebihan dalam buku ini:
Kelemahan:
· Dalam
buku ini tidak membahas semua masalah-masalah yang ada dalam filsafat islam.
· Tebal
buku ini terlalu tipis, sehingga bahasannya kurang nenyeluruh.
· Yang
dibahas dalam buku ini hanya dibatasi oleh empat masalah saja, sehingga
menyebabkan pembaca kurang puas.
· Ada
beberapa bahasan dalam buku ini yang sulit untuk dipahami oleh pembaca karena
pembahasannya yang berputar-putar.
· Ada
beberapa kata-kata yang diadopsi dari bahasa asing, yang tidak dikasih petunjuk
atinya, sehingga pembaca kesulitan dalam memahaninya.
Kelebihan:
· Buku
ini dapat memberikan kita penghetahuan lebih tentang filsafat islam.
· Dengan
pembahasan yang hanya dibatasi oleh empat masalah saja kita bisa lebih faham
dan fokus untuk mempelajari kandungan dalam buku ini.
· Buku
ini dapat dijadikan analisis perbandingan antara pemikiran filosof satu dengan
filosof yang lainnya.
Komentar