Resensi Filsafat Islam


RESENSI BUKU

JudulBuku                   : SEGI-SEGI PEMIKIRAN FALSAFI DALAM ISLAM
Penulis                         : Dr. Muhd. Yusuf Musa dan Dr. Tsabit Al-Fandi
Editor                          :Dr. ahmad Daududy, M.A.
Penerbit                       : P.T. Bulan bintang
TebalBuku                   :116 Lembar
Cetakan                       : Pertama, Jakarta 1984

            Kelangkaan buku-buku filsafat yang ditulis dalam Bahasa Indonesia menyebabkan kesulitan mahasiswa IAIN khususnya dalam mempelajari filsafat disebabkan kelemahannya dalam Bahasa Arab, sehingga menghambat dalam memahami sumber-sumber asli atau makalah-makalah ilmiah serta buku-buku filsafat yang dituilis kebanyakan dalam Bahasa Arab.
            Dalam buku ini telah dirangkum atau diterjenahkan empat makalah ilmiah dalam filsafat islam yang ditulis oleh para ahli. Dalam empat makalah yang telah diterjemahkan itu isinya membahas tentang:
1.      Ketuhanan dalam pemikiran ibn Sina dan ibn Rusydi
2.      Allah dan alam dalam konsepsi ibn Sina
3.      Tahafutul-falasifah karya Al-Ghazali
4.      Filsafat agama dalam pemikiran Al-Ghazali
Selanjutnya saya akan mencoba menguraikan sedikit yang saya pahami dari buku ini.
        A.    KetuhanandalamPemikiranibnSinadanibnRusydi
Dalam pembahasan ini dibatasi pada masalah “ketuhanan dan penciptaan alam” dalam konsepsi ibn Sina dan ibn Rusydi. Yang menyebabkan reaksi al-Gazali terhadap masalah tersebut yang demikian sengit dan keras terhadap para filosof khususnya al-Farabi dan ibnSina, dan selanjutnya reaksi Ibn Rusydi terhadap al-Ghazali dan terhadap kitabnya yang berjudul Tahafutut al-falasifah, sebagai upaya menjelaskan kebenaran dalam masalah-masalah yang telah meruncingkan permusuhan.
Ibn Rusydi telah membuat komentar dan kesimpulan filsafat aristoteles, sehingga ia disebut al-Syarih (komentator) guru Pertama yakni Aristoteles. Ada dua corak pendiriannya dalam masalah ini, yaitu:
1.      Ia berdiri dipihak ibn Sina, versus al-Ghazali, jika pendapatnya sesuai dengan pemikirannya atau jika ia melihat pendapatnya berasal dari Aristoteles. Dalam hal ini dia menambahkan sandaran atau alas an baru terhadap mazhabnya atau menjelaskannya dengan lebih rinci.
2.      Dari sisi lain, jika ia melihat ibn Sina menyalahi “Guru Pertama”, sehingga ia mengadakan apa yang tidak dikatakannya, maka kita melihat ibn Rusydi merehmehkan serta mengumpatnya dengan kersas sekali, seraya menjelaskan bahwa ibn Sina telah memberikan kesempatan bagi al-ghazali untuk menyerang filsafat dan para filosof umumnya, sementara ibn Sina dan al-Farabi, adalah yang berhak menjawab sendiri serangan tersebut.
    a.     Wujud Allah
Aristoteles berpendapat, pengakuan adanya “penggerak pertama” sudah cukup untuk menjadi penafsiran alam ini: gerak, kejadian, dan hancurnya, sehingga ia menjadikan-Nya sebagai titik terakhir dimana berakhir segala silsilah gerak. Dia sendiri yang tetap, tidak gerak, dan tanpa Dia, gerak alam ini tidak bisa ditafsirkan secara akali. “Penggerak Pertama”, ini atau dengan kata lain “YamgTerakhir” dari silsilah gerak menurutnya adalah Tuhan.
 Akan tetapi disini terdapat kesukaran, gerak alam dari Tuhan dapat dipandang sebagai sebab tujuan (‘illahgha’iyyah), yakni Tuhan adalah tujuan yang menjadi arah gerak alam, bukan sebagai pencipta alam ini. Karna dalil tersebut berujung pada “penggerak” atau Tuhan yang tidak berbuat, sehingga alam ini tidak dari-Nya.
Pendapat Aristoteles ini, yang kepada “Penggerak Pertama” adalah Tuhan bertentangan dengan agama, baik islam atau yang lainnya. Karena Tuhan dalam pengertian ini bukan sebagai pencipta atau pembuat alam ini, sementara dengan tegas al-Qur’an menyatakan bahwa Allah adalah pencipta segala sesuatu.
Oleh karena itu ibn Sina menempuh jalan lain dari aristoteles dalam menetapkan wujud Allah. Ia memadukan konsepsi Aristoteles dengan ajaran al-Qur’an. Ia memilki dalil yang didasarkan pada perbedaan wajib dan mungkin, tanpa adanya pertimbangan lain selain wujud itus endiri. Ia berdalil dengan “kemungkinan segala yang mungkin”(imkan al-mumkinat) terhadap wujud yang wajib (Tuhan).
Imam al-Gazali tidak membiarkan dalil ibn Sina berperan begitu saja, dan ia menjelaskan bahwa dalil itu tidak benar, ia menjelaskan bahwa dalil itu tidak benar dapat mencapai maksud, yakni menetapkan wujud Allah. Demikian juga ibn Rusydi menurutnya bahwa metode ibn Sina dalam masalah ini adalah metoda dialektis (jadali)bukan bukti (burhani) dan juga tidak mencapai tujuan sehingga ibn Rusydi juga menolaknya. Ibn Rusydi tidak sependapat dengan ibn Sina dalam menetapkan wujud Allah. Menurutnya jalan yang dapat membawa kita pada pengakuan adanya Allah dan juga al-Qur’an adalah dalil‘inayah dan dali likhtira’.
     b.      Pencipta Alam
Ibn Sina dan al-farabi mengemukakan dua dasar:
Ø  Alam ini kadim dari segi zaman
Ø  Yang Esa itu esa dari segala segi, dari-Nya hanya satu yang keluar dan melimpah, dan dari yang satu ini keluarlah yang lainnya
Jadi ibn Sina mengatakan alam ini kadim dan ia melimpah dari Allah.
Teori ini mengundang kritik tajam dari al-Ghazali, katanya teori tersebut adalah sesat dan salah karena dapat menggiring orang mengatakan alam ini kadim (tidak bermula) serta menafikan iradah dan ikhtiar Allah. Jika alam ini melimpah dari allah sebagai suatu keharusan yang mesti sejak azali, maka wujud alam adalah wujud Allah, sehingga keduanya sejenis dan serupa dalam wujud yang kadim.
Ibn Rusydi juga tidak dapat menerima teori ibn Sina tersebut. Pendapatnya adalah dari Yang Esa Pertama keluarlah mula-mula semua mahkluk yang berjenis-jenis.
    A.    Allah dan Alam dalam Konsepsi ibn Sina
Ibn Sina menyatakan bahwa “sebab kebutuhan kepada al-wajib (tuhan) adalah mungkin, bukan baharu. ” Pernyataan ini akan membawa aktifnya iradah Allah sejak kadim, sebelum zaman.
Ibn Sina menyempurnakan tori Aristoteles dengan ajaran islam, yaitu:
-          Tuhan adalah akal karena Ia bukan materi.
-          Tuhan memikirkan dzat-Nya, karena akal itu harus memikirkan sesuatu. Tetapi tidak ada yang lebih luhur dari pada dzat yang dipikirkan itu, sehingga dzat-Nya menjadi objek pemikiran-Nya.
Baik al-Ghazali maupun ibn Rusydi mengeritik ibn Sina dengan keras, menuduh ibn Sina hanya mengatakan ilmu kulli dari Allah.
Hubungan Tuhan dengan alam dalam konsepsi ibn Sina dapat disimpulkan sbb:
·         Tuhan dalam konsepsi ibn Sina tidak jauh beda dengan konsepsi aristoteles, yakni tunduk pada hukum kemestian (necessity).
·         Teorifaidh (melimpah) yang berkisar pada akal-akal immaterial(al-‘uqulu ‘l-muffariqah) dan jiwa-jiwa falak adalah suatu teori yang tidak menambah hal baru pada Tuhan sebagai “sebab pembuat”, karena tidak melampaui akal pertama.
·         Satu-satunya ajaran islam yang terdapat hubungan Tuhan dengan alam adalah ajaran “ilmuIlahi”, sehinggaiamenjadikanilmu Allah menjangkausegalasesuatu yang dilangitdan di bumi. BerbedadenganAristoteles yang Tuhanhanyamenghetahuidzat-Nyasendiri.
B.     Tahafutul-FalasifahKarya al-Ghazali
Tahafututberartikianjatuhdanrusak, yang dimaksud ialah bahwa filosof telah jatuh mati akibat tikaman maut yang diarahkan oleh al-Ghazali terhadap pemikiran mereka, sehingga ilmu filsafat tidak lagi muncul sesudah itu (di dunia islam), walaupun ibn Rusydi mati-matian untuk mempertahankannya. Al-Ghazali menyerang Para filosof dan menyatakan pemisahan diri dari filsafat tradisional.
Tahafut melukiskan pertentangan antara agama dan filsafat. Dalam kitab Tahafut didalamnya ia menyanggah para filosof dan menunjukkan kekacauan pendapat mereka.Munculnya kitab Tahafut al-Falasifah merupakan permulaan kemenangan agama dan kehancuran filsafat, sehingga akhirnya filsafat itu menghilang sama sekali dalam kehidupan umat islam karena keluarnya fatwa yang mengharamkan belajar dan mengajar ilmu tersebut.
a.       Kitab Tahafut
Kitab ini terdiri atas empat mukaddimah, 20 masalah dan penutup (khatimah). Sejumlah 20 masalah, dikategorikan sebagai hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama, bahkah tiga diantaranya dipandang sebagai konsep-konsep orang kafir. Masalah tersebut dapat dibagi sebagai sebagai berikut:
1.      Hubungan Allah dengan alam, hal ini meliputi empat masalah
·         Kadimnya alam
·         Keabadian alam dan zaman
·         Allah pencipta dan pembuat alam
·         Ketidak mampuan membuktikanadanya pembuat alam.
2.      Keesaan dan ketidak mampuan membuktikan-Nya (masalah kelima).
3.      Sifat-sifat Ilahi (masalah keenam sampai kedua belas).
4.      Meghetahui hal-hal yang kecil “juz ‘iyyat” (masalah ketiga belas).
5.      Masalah falak dan alam (masalah keempat belas sampai dengan keenam belas).
6.      Sebab akibat (masalah keyujuh belas).
7.      Jiwa manusia (masalah kedelapan belas dan sembilan belas).
8.      Kebangkitan jazad pada hari akhirat (masalah kedua puluh).
C.    Filsafat Agama dalam Pemikiran al-Ghazali
Al-Ghazali mengemukakan suatu filsafat yang berbeda dengan filsafat para teolog dan filosof,karna kebanyakan perhatian mereka terpusat pada masalah-masalah klasik yang terdapat dalam pemikiran Yunani. Al-Ghazali menafsirkan ajaran agama dari segi tasawwuf yang jauh berbeda dengan penafsiran yang pernah dilakukan oleh para fukaha dan teolog. Oleh karena itu al-Ghazali bukan disebut “filosof Tahafut”, tapi “filosof Ihya”. Al-Ghazali menafsirkan ajaran agama dari sudut mistik , yakni: shalat, tauhid, dan ma’rifah.
Pemikiran al-Ghazali didominir oleh pandangan bahwa agama islam mengandung dalam dirinya dua jenis penafsiran:
1.      Tafsir duniawi
2.      Tafsir ukhrawi
Demikianlah kandungan umum tentang empat makalah yang termuat dalam buku ini. Saya akan sedikit menguraikan tenteng kelemahan dan kelebihan dalam buku ini:
Kelemahan:
·         Dalam buku ini tidak membahas semua masalah-masalah yang ada dalam filsafat islam.
·         Tebal buku ini terlalu tipis, sehingga bahasannya kurang nenyeluruh.
·         Yang dibahas dalam buku ini hanya dibatasi oleh empat masalah saja, sehingga menyebabkan pembaca kurang puas.
·         Ada beberapa bahasan dalam buku ini yang sulit untuk dipahami oleh pembaca karena pembahasannya yang berputar-putar.
·         Ada beberapa kata-kata yang diadopsi dari bahasa asing, yang tidak dikasih petunjuk atinya, sehingga pembaca kesulitan dalam memahaninya.
Kelebihan:
·         Buku ini dapat memberikan kita penghetahuan lebih tentang filsafat islam.
·         Dengan pembahasan yang hanya dibatasi oleh empat masalah saja kita bisa lebih faham dan fokus untuk mempelajari kandungan dalam buku ini.
·         Buku ini dapat dijadikan analisis perbandingan antara pemikiran filosof satu dengan filosof yang lainnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KONSEP ILMU DAN DILALAH MENURUT ILMU MANTIQ

LAPORAN KKN DI DESA PONOLAWEN KECAMATAN KESESI KABUPATEN PEKALONGAN

HAL-HAL YANG HARUS DIJAUHI OLEH PENUNTUT ILMU